Friday, July 15, 2016

Panti wreda ST. Theresia


"Menjadi Tua adalah Jalan setiap manusia" itulah yang melatarbelakangi pastur kami mengajak kami keluarga pasturan gereja St. Maria Lourdes Sumber berkunjung dan berdoa bersama ke panti wredha St.Theresia yang berada di solo ini. Pastur berpesan inilah gambaran kita beberapa tahun lagi, lemah tak berdaya sakit dll. Sungguh saya terharu melihat nasip para kakek - nenek  disini dimana sebagian mereka sudah pikun dan sakit. sebagian lagi yang miris mereka dibuang keluargannya seperti seorang nenek yang cacat sejak lahir dan sudah dibuang oleh keluargannya. dimana pihak panti ingin mengembalikannya kepada keluarganya malah keluarganya meminta bila dia dipulangkan maka keluarga menghendaki dalam keadaan di mutilasi.
selain itu ada kesedihan di muka lansia lainnya yang merindukan keluargannya dan ingin pulang. saya berbincang dengan pengurus dimana mereka sanggat kekurangan tenaga medis untuk merawat para lansia ini yang berjumlah sekitar 62 orang yang mana setiap orang memiliki karakter yang berbeda. "Menjadi tua belum tentu menjadi dewasa" itulah quotes yang saya dapat dari ibu pengurus panti. sebab beberapa orang tua justru malah menjadi seperti anak - anak lagi yang suka bercanda dan bermain - main  seperti gambar dibawah saat saya diajak bermain permainan daerah jamuran.

selain itu ada kisah dimana seorang ibu yang sudah pikun yang mana dia sangat menyukai pedas dan selalu makan cabeai saat dia makan pergi keluar panti untuk membeli cabai. hingga matahari terbenam ibu itu tak kunjung kembali kepanikan meliputi seluruh petugas panti dan segala usaha dilakukan pengurus mulai dari menghubungi pihak berwajib hingga mudika sekitar. sebab lansia disitu menjadi tanggung jawab pengurus mengingat para keluarga membayar untuk menintipkan keluarganya disitu. sebab untuk tinggal dipanti itu tidaklah gratis. biayanya sekitar 1 juta setahun. dan untuk orang yang dibuang dibiayai oleh caritas. beruntung setelah 3 hari nenek itu ditemukan oleh seorang mudika dan dibawa pulang dan semenjak pengalaman itu para pengurus menetapkan kebijakan untuk menutup gerbang dan aturan lapor untuk keluar sehingga para manula yang pikun dapat didampingi dan dalam pengawasan. sebab konsep panti wredha ini sangatlah baik dimana saat saya berbincang dengan pengurus yaitu bahwa para manula disini dikembalikan keberfungsian sosialnya dan bukan hanya sekedar menetap. dimana mereka diajarkan untuk mandiri tidak bergantung pada perawat disana sesuai seperti konsep yang dilakukan oleh seorang pekerja sosial bahwa orang yang mengalami kemunduran kehidupan sosialnya harus dikembalikan keberfungsian sosialnya dimana dia harus dapat mengambil keputusan sendiri dan menemukan solusi dari permasalahannya bukan berati dia harus bergantung pada orang lain dan cenderung menjadi orang yang ketergantungan.
Terima kasih Panti wreda ST. Theresia solo Tuhan Memberkati kalian dan para pengurus

Kehidupan Seimbang By : bonaventura Andhikaputra


Setelah berkunjung ke ketep pass saya dan Nugraha ingin mencari makan berhubung waktu masih lama kami memutuskan ke daerah Kulonprogo ke tempat ziarah gua maria sendang sono, disana merupakan wujud nyata perkembangan agama khatolik di Jawa. tetapi dilain untuk beribadah ada satu tempat yang paling ingin saya kunjungi untuk bersantap siang itu didekat gua maria yaitu warung yang yang menjajakan aneka masakan daging RW. karena saya dan Nugraha sudah lama merindukan masakan ini makan tanpa banyak bicara kami langsung memesan dan makan, dan bahkan saya makan 2 porsi hingga bapak penjualnya tertawa karena saya kenal dengan bapaknya. Semenjak merantau satu tahun yang lalu saya sudah tidak mampir ketempat ini, menikmati daging tongseng sambil menikmati keindahan bukit menoreh yang masih alami. bila beruntung kita dapat menemukan buah rambutan berserakan sepanjang jalan bahkan buah duren bila sedang musim, akan tetapi kita pergi kesana saat tidak berbuah. setelah jasmani kami terisi kami melanjutkan ziarah untuk mengisi rohani kami. Sejuknya udara pegunungan menoreh menambah khusyuk ibadah kami sore itu.

Pulang kampung By : Bonaventura Andhikaputra

tonton video saya di : https://www.youtube.com/watch?v=zMFpj5zf5Vo

Liburan semester kali ini aku juga memutuskan pulang kampung, tapi aku menunggu temanku anak STAN libur agar bisa pulang bersama maka kami memilih tanggal 29 juni untuk pulang ke Magelang. Perjalanan pulang kali ini sangatlah berkesan karena banyak hal terjadi mulai dari kesasar dibandung dan terselamatkan supir uber taxi hingga kelaparan cari makan di kawasan malioboro. kami awalnya hanya pulang berdua hingga pada akhirnya Nugraha menyusul distasiun hingga kami pulang bertiga. ada pengalaman menarik saat kami pulang kampung yaitu saat kami berbincang dengan supir Uber taxi yang bercerita bahwa dalam satu hari dia mampu membawa 7 penumpang kalau sepi dan lebih dari 10 bila ramai. dan supir Uber dibatasi regional dimana dia mendaftarkan menjadi seorang driver. Untuk regional Bandung dibatasi dari gerbang tol cikarang hingga cileunyi. sesampai di Magelang hari kedua di Magelang saya dan Nugraha pergi ke ketep pass dimana kami ingin melihat gunung merapi akan tetapi karena berkabut kami hanya pergi ke pinusan dan hanya dapat puas dengan hal itu. dilain kesempatan kami berkeliling kota magelang mencari makanan untuk lebaran. dimana beberapa makanan khas magelang seperti wajik, krasikan merupakan makanan yang selalu aku rindukan. aku sekeluarga mencari makanan - makanan tradisonal di sekitaran kota magelang. aku mengajak jalan nugraha disepanjang jalan di magelang niatnya aku ingin menunjulan alun - alun kota magelang tetapi karena panas dan terbatasnya waktu kami memutuskan untuk tidak jadi ke alun - alun


Aku dan Nelayan By : Bonaventura Andhikaputra


Kampung nelayan di pelabuhan sunda kelapa, daerah penjaringan Jakarta Utara sangatlah gigih puasa dan panasnya Jakarta tidak menyurutkan niat mereka mengibarkan jaring. Aku meliat sore itu beberapa nelayan menurunkan hasil tangkapan hari itu ke sebuah truck. Lagu “Nenek moyangku” terniang dipikirku, mengingatkan akan negeri ini yang kaya akan laut dari sabang hingga merauke menjadi sebuah negara kepulauan. Tetapi mengapa?? …masyarakat kita memunggungi laut??? Dalam lagu nenek moyang tergambar jelas manusia Indonesia itu “mengarungi laut luas samudra” “menembus badai sudah biasa”. Tapi nampaknya sekarang mereka melupakan hal itu. Aku sungguh mengagumi para nelayan sejak kecil, dan bermimpi menjadi pelaut dari dahulu walaupu aku anak yang dibesarkan di gunung. Semoga program presiden terbaru kita bisa mengembalikan kejayan laut kita sesuai presiden pertama kita. sebab bangsa kita adalah bangsa pelaut.selain itu aku sempatkan melihat apa saja kegiatan para nelayan di sore hari itu. sebagian para nelayan ternyata sedang mempersiapkan kapal untuk perburuan di malam nanti dan kembali di pagi hari dengan tangkapan lagi. pekerjaan seorang nelayan merupakan pekerjaan beresiko tinggi karena tak jarang dari mereka yang melaut dan tidak kembali karena ditelan kejamnya ombak. sebagian dari mereka lagi hanya mampu bersedih karena pulang hanya sedikit tangkapan dan itupun hanya dihargai murah oleh para pedagang tidak sesuai dengan kerja keras mereka menaklukan lautan siang dan malam. ada pula warga yang menjajakan tumpangangan menyebrang ke kampung nelayan dengan kapal kecil mereka. aku sempat berpikiran untuk berputar menaiki kapal tersebut tetapi karena waktu itu aku lupa membawa uang lebih hal itu aku urungkan dan aku lebih memilik berputar diarea pelabuhan dimana beberapa kapur berserakan di jalan diangkut oleh truck - truck disana dan peti kemas di susun rapi tak tau siapa pemiliknya. kapur yang berserakan membuat kulit menjadi gatal tetapi tidak menyurutkan rasa ingin tauku melihat matahari terbenam disana selain itu aroma air laut tercium sangat kuat disana. para nelayan berbadan kurus berkulit hitam berjalan pulang tanpa mengenakan baju. selain itu ada tukang ojek yang menawarkan jasa kepada saya. sejauh mata memandang kelaut biru air laut seolah mengundang kita tuk mengarunginya.

Aku dan Jakarta By: Bonaventura Andhikaputra

Aku bukanlah orang yang lahir di Jakarta, Aku juga bukanlah orang ya g berdomisili di Jakarta tetapi aku menyukai Jakarta kalimat inilah yang mungkin menggambarkan hubungan ku dengan Jakarta. Jakarta memiliki banyak kenangan tersendiri buatku. Dimana saat bayi aku dibesarkan diJakarta merasakan panasnya metro mini hingga dinginnya mall - mall disana, mulai dari PIM hingga Senayan city. Aku termasuk orang -orang yang merasakan gratisnya transjakarta pada masa uji coba dimasa pemerintahan Fauzi Bowo. Pembangunan Jakarta menurutku luar biasa. Di 22 juni ulang tahun mu ini aku ingin menguucapkan selamat ulang tahun Jakarta. Hari ulang tahun ku selalu meriah bila berada dijakarta sebab ulang tahun kami hanya selisih satu hari dan aku sering merayakannya dengan pergi ke PRJ dan tempat perayaan lainnya. tapi di ulang tahunku ke 22 ini aku senang sebab bisa merayakannya dengan pergi ke jakcloth dan pergi ke kota tua (museum fatahillah ) hingga ke pelabuhan sunda kelapa. Setiap aku berkunjung ke Jakarta selalu saja ada yang berubah dan baru entah itu bangunan dan suasananya. sepertinya Jakarta itu berkembang lebih cepat dari kereta cepat yang akan dibangun dari jakarta ke Bandung. Tidak cukup sehari untuk menceritakan mengenai Jakarta sebab saking banyaknya sejarah dan tempat yang akan kau ceritakan. saat itu aku menunggu temanku di halte bussway central harmoni. aku duduk disalah satu tempat duduk disitu dan mulai mengamati setiap detiknya dimana orang berlalu lalang dengan asal dan tujuan yang berbeda. dengan logat dan bahasa yang berbeda tapi tergabung dalam satu kesatuan bahasa Indonesia. ada yang terkesan individual dengan mengenakan masker topi hitam jaket hitam dan mendengarkan lagu dengan headset. ada pula rombongan keluarga bapak, ibu dan ketiga anaknya yang berlari mengejar bus arah blok M dan ada pula ibu - ibu yang stress dan berbicara sendiri sembari marah - marah membuat kerumunan didepanku bergumam dan mulai membully ibu itu. Jakarta merupakan kota yang tidak pernah tidur dimana aku pulang sekitar jam 6 dari museum fatahillah dan sampai rumah pukul 11 malam didaerah depok akibat terjebak macet disekitaran daerah radio dalam. berdesak desakan dengan penumpang lain yang merindukan keluarganya dirumah dan sebagian memasang muka masam karena lelah berdiri karena saat itu bus dalam keadaan penuh dan sayapun berdiri sekitar 3 jam di bis itu.